SERTIJAB 25-27 JANUARI 2010



SERTIJAB KABAIS TNI
27 Januari 2010
Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso bertindak sebagai Inspektur Upacara pada serah terima jabatan Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI dari Mayjen TNI Syafniel Armen, S.IP, SH., M.Sc., kepada Mayjen TNI Anshory Tadjudin sesuai Surat Perintah Panglima TNI Nomor Sprin/43/I/2010 tanggal 13 Januari 2010, di Mako Bais TNI Kalibata Jakarta Selatan, Rabu (27/01/2010). Mayjen TNI Syafniel Armen, S.IP, SH., M.Sc., selanjutnya akan memasuki masa pensiun, sedangkan Kabais TNI yang baru Mayjen TNI Anshory Tadjudin sebelumnya menjabat Asintel Panglima TNI.
Dalam sambutannya Panglima TNI menyatakan bahwa serah terima jabatan ini sebagai sarana untuk memelihara dinamika dan meningkatkan kinerja organisasi serta memastikan berlangsungnya kaderisasi kepemimpinan dalam tubuh TNI. Jabatan yang diserahterimakan ini, bukan sekedar penghargaan atau pengakuan, tetapi merupakan amanah dari institusi TNI, bangsa dan Negara.
Jabatan sebagai pengakuan atau penghargaan, memiliki dimensi struktural sebagai lambang kepercayaan, atas tugas dan kompetensi yang dipercayakan. Sedangkan sebagai amanah, jabatan memiliki dimensi moral yang mencerminkan tanggung jawab yang lebih besar dan dalam lagi, pesan moral terpenting dari setiap amanah tersebut adalah tanggung jawab yang mesti ditunaikan dengan lunas, baik kepada diri sendiri, keluarga dan organisasi TNI, maupun kepada bangsa dan negara, serta lebih utama kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang kelak dipertanggungjawabkan di akhirat di hadapan Sang Khaliq, tegas Panglima TNI.
Lebih lanjut Panglima TNI juga menyebutkan Bais TNI bertugas pokok menyelenggarakan kegiatan dan operasi intelijen strategis serta pembinaan kekuatan dan kemampuan intelijen strategis dalam mendukung tugas pokok TNI sesuai amanat Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004. Tuntutan tugas Bais TNI tersebut akan semakin berat, terutama jika dikaitkan dengan spektrum ancaman yang sangat luas dewasa ini, baik yang berasal dari ancaman tradisional maupun non-tradisional. Namun demikian Bais TNI tetap dituntut dapat menjadi institusi terdepan dalam menyiapkan Intelijen Strategis, dan sebagai ujung tombak pimpinan TNI dalam melaksanakan deteksi dan cegah dini terhadap segala ancaman dan gangguan NKRI.
Karena itu tidak ada pilihan lain bagi Bais TNI untuk senantiasa memelihara dan meningkatkan profesionalitas fungsi intelijen, Bais juga dituntut untuk dapat berkoordinasi dengan komunitas intelijen (Intelligence Community) baik dengan Badan Intelijen Angkatan dan Kotama, maupun Badan Intelijen diluar TNI.
Disamping itu Panglima TNI juga berharap dan menekankan agar memelihara dan meningkatkan kemampuan intelijen strategis secara terpadu dan terus-menerus untuk mewujudkan kemampuan deteksi dan cegah dini secara tepat dan akurat, sempurnakan terus prosedur dan mekanisme kerja di lingkungan TNI, melalui koordinasi yang kuat antara unsur-unsur intelijen, pemantapan organisasi, peningkatan kemampuan personel dan modernisasi alat peralatan intelijen yang terintregrasi antar matra.
Hadir dalam acara tersebut Kasum TNI Laksdya TNI Didik Heru Purnomo, Irjen TNI Letjen TNI Liliek AS. Sumaryo, Dansesko TNI Marsdya TNI Edy Harjoko dan para Asisten Panglima TNI antara lain Asintel Panglima TNI Mayjen TNI Rasyaid Qurnuen Aquary, Asops Panglima TNI Mayjen TNI Supiadin AS., Kapuspen TNI Marsda TNI Sagom Tamboen, S.IP, serta Wakabais TNI Marsda TNI Tengku Johan. Sumber http://www.tni.mil.id


KASDAM IV/DIPONEGORO PIMPIN SERTIJAB KATOPDAM DAN KAJASDAM
26 Januari 2010
Warga baru Kodam IV/Diponegoro harus segera beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi Kodam IV/Diponegoro, dan juga diharapkan mengerti dan memahami secara benar segala yang berkaitan dengan Kodam IV/Diponegoro. Mulai dari sejarah, jati diri sampai dengan masalah kebijakan pimpinan, sehingga dalam berpikir, bersikap dan bertindak selalu sejalan dengan garis komando yang bermuara pada keberhasilan tugas pokok dan pemeliharaan citra Kodam IV/Diponegoro.

Demikian disampaikan Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Budiman dalam amanat tertulis yang dibacakan oleh Kasdam IV/Diponegoro Brigjen TNI Langgeng Sulistiyono pada acara tradisi penerimaan prajurit Kodam IV/Diponegoro di Aula Makodam, Watugong Semarang (26/1). Dua orang anggota Kodam IV/Diponegoro yang baru yaitu Letkol Inf Drs. Waluyo yang menjabat Kajasdam IV/Diponegoro dan Letkol Ctp Drs. Imam Asyirudin sebagai Katopdam IV/Diponegoro yang baru. Acara tradisi penerimaan prajurit ini merupakan rangkaian acara sertijab Kajasdam dan Katopdam IV/Diponegoro sekaligus acara pelepasan prajurit Kodam IV/Diponegoro.
Pergantian pejabat di lingkungan Kodam IV/Diponegoro dimaksudkan untuk memberikan penyegaran agar suatu organisasi dapat berfungsi secara dinamis dan hal ini juga merupakan bagian dari kepentingan pembinaan satuan yang diselaraskan dengan pembinaan personel bagi upaya pencapaian optimalisasi tugas pokok Kodam IV/Diponegoro. Diharapkan pula sertijab dapat membawa manfaat bagi para Perwira yang bersangkutan dan membawa suasana baru yang kondusif bagi pelaksanaan tugas di satuan masing-masing dan Kodam IV/Diponegoro.

“Semoga kepercayaan ini disyukuri dan dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab yang akan membawa manfaat bagi pencapaian tugas pokok Kodam IV/Diponegoro. Hendaknya semua keberhasilan yang telah dicapai oleh para pimpinan terdahulu dapat diteruskan dan lebih ditingkatkan lagi, khususnya dalam membina dan menyiapkan satuan-satuan ini untuk mampu tampil optimal mendukung pelaksanaan tugas pokok dan tugas-tugas Kodam IV/Diponegoro ke depan”, pesan Panglima kepada para pejabat baru.
Pangdam juga menambahkan, bahwa sebagai salah satu upaya komando dalam menyalurkan energi baru dan segar kepada Jasdam dan Topdam, pergantian pimpinan kali ini hendaknya benar-benar akan dapat mengantarkan kedua satuan ini menjadi organisasi yang mampu menghadapi dinamika tugas yang semakin kompleks.

Jasdam IV/Diponegoro hendaknya mulai memberikan asistensi yang tepat terhadap format pembinaan jasmani militer yang diperlukan oleh prajurit-prajurit Kodam IV/Diponegoro dengan spesifikasi tugas-tugas yang dihadapinya. Pembinaan jasmani militer selama ini cenderung belum sepenuhnya menjawab kebutuhan yang diperlukan dan tentunya tidak diharapkan pembinaan jasmani yang salah akan menjadikan para prajurit mengalami gangguan atau penderitaan fisik di masa tuanya.

Sedangkan dalam konteks pelaksanaan seleksi jasmani militer untuk kepentingan pendidikan, promosi jabatan maupun rekrutmen hendaknya dilakukan secara obyektif dan didasarkan pada moralitas yang tinggi. Pelaksanaan seleksi yang tidak obyektif akan berdampak pada munculnya personel-personel yang tidak cakap dalam melaksanakan peran dan tugasnya, sehingga akan membahayakan keberadaan TNI AD di masa yang akan datang.
Selanjutnya Pangdam mengingatkan kembali bahwa Topdam IV/Diponegoro berperan sebagai pendukung tugas pokok Kodam IV/Diponegoro dalam tahap perencanaan, persiapan, maupun dalam tahap pelaksanaan tugas dan kegiatan-kegiatan Kodam IV/Diponegoro, karena fungsi dan peranan Topdam IV/Diponegoro erat kaitannya dengan penyiapan dan pembuatan peta-peta daerah latihan.

Selain itu juga perlu diwaspadai perkembangan dan perubahan bentuk prasarana yang ada di atas medan sebagai akibat dari pembangunan. Jika hal itu tidak atau terlambat diantisipasi maka Kodam IV/Diponegoro akan ketinggalan data dan informasi topografi terkini, dan hal itu sangat merugikan dan berbahaya, khususnya dalam pengambilan keputusan. Diharapkan Topdam IV/Diponegoro senantiasa memelihara dan meningkatkan kapasitas dan sumber daya yang dimiliki dengan sebaik-baiknya, peka dan fleksibel dalam memberikan pelayanan teknis sesuai kebutuhan dan tuntutan tugas Kodam IV/Diponegoro yang semakin kompleks dan tidak ringan.
Selanjutnya juga perlu diketahui pejabat Kajasdam IV/Diponegoro yang lama, Letkol Inf Drs. Suhartono akan melaksanakan tugas baru selaku Kadepjas Pusdikif Pussenif Kodiklat TNI AD, sedangkan Letkol Ctp Drs. Muh Giyanto yang sebelumnya menjabat Katopdam IV/Diponegoro akan memangku jabatan baru sebagai Kadep Gefi Pusdiktop Kodiklat TNI AD. (Drs. Zaenal M., M.Si./Pendam 4/Dispenad)


BRIGJEN TNI WARIS KASDAM JAYA/JAYAKARTA
25 Januari 2010
Brigadir Jenderal TNI Waris yang saat ini menjabat Staf Ahli Kasad, sesuai dengan Surat Keputusan Panglima Tentara Nasional Indonesia Nomor Kep / 7 / I / 2010 tanggal 11 Januari 2010 akan menjabat sebagai Kepala Staf Kodam Jaya/Jayakarta yang bermarkas di Jl. Mayjen Sutoyo No 5 Cililitan Jakarta Timur. Senin (25/01).

Brigadir Jenderal TNI Waris menjabat sebagai Staf Ahli Kasad mulai tahun 2009. Lulusan Akabri Tahun 1981 ini selama kariernya pernah bertugas di beberapa satuan dengan jabatan yang cukup strategis seperti Wadan Yonif 507/BS Kodam V/Brw, Kasdim 0809/Kediri Rem 082/CPY, Danyonif 315/Rem 061/SK Dam III/Slw, Dansatprot Paspampres, Dansatpam Grup Paspampres, Danyon Pam Grup B Paspampres, Dandim 0814/Rem 082 Kodam V/Brw, Wadan Grup B Paspampres, Wadan Grup A Paspampres, Danbrigif 13/1 Kostrad, Komandan Mensis Secapa, Asops Kasdam IM, Danrindam II/Swj, Irkostrad, Kasdivif 1 Kostrad.
Brigadir Jenderal TNI Waris dilahirkan di Malang pada tanggal 12 Desember 1957 dengan pendidikan umum SMA. Sedangkan pendidikan militer dimulai dari Akabri, Susarcab, Suspatih Inf, Suslapa Inf, Seskoad, Susdandim, Susdanrem, Seskogab, Susstrat Perang Semesta dan Lemhanas RI. Mempunyai seorang istri bernama Sri Sunaeni dan telah dikaruniai 2 anak.

Pangalaman Tugas keluar negeri yang telah dilaksanakan adalah Kamboja tahun 1997, Vietnam tahun 1999, Laos tahun 1999, Malaysia tahun 1999, Filiphina tahun 1999, Belanda tahun 2000, Belgia tahun 2000, India tahun 2000, Thailand tahun 2000, Singapura tahun 2001, Austria tahun 2009, Dubai tahun 2009 dan tanda jasa yang dimiliki adalah SL Seroja Ulangan I, SL Kesetiaan VIII, XVI, SL Dwija Sistha, SL GOM VII (Aceh), SL Darma Nusa, SL Kebaktian Sosial, SL Bhakti dan Bintang Kartika Eka Paksi Nararya. Sumber http://www.tni.mil.id